Monday, June 1, 2009

 

Kerang Mutiara atau Kerang Rebus?

Jakarta, Dua puluh tujuh tahun yang lalu, keluarga kami tinggal di tengah hutan di Lampung. Kampung terdekat dengan gubuk kami berjarak kurang lebih 2 km. Gubuk itu terbuat dari bambu (gedhek). Agar aman dari serangan binatang buas gubuk kami dibuat panggung. Pohon singkong mengelilingi gubuk yang hanya mempunyai satu tempat tidur itu. Di depan gubuk nan semilir ada sungai kecil dengan aliran air yang sangat jernih. Setiap hari saya bermain air dan mandi bersama adik dan kakak di aliran sungai itu.

Untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk, saya sering memancing ikan di rawa kecil dekat tempat tinggal kami. Suatu saat, ketika saya sedang memancing ikan di rawa, Ayah saya datang dan kemudian duduk di samping saya. \"Mil, bapak punya cerita tentang kerang mutiara dan kerang rebus, sambil mancing kamu dengarkan ya,\" kata bapak saya.

Sambil terus saya memancing, Ia bertutur, \"Ketika kerang belia mencari makan dibukalah penutup badannya, ketika itu pasir masuk ke dalam tubuh kerang belia itu. Sang kerang menangis, \"Bunda sakit bunda...sakit...ada pasir masuk ke dalam tubuhku.\" Sang Ibu menjawab, \"Sabarlah anakku, jangan kau rasakan sakit itu, bila perlu berikan kebaikan kepada sang pasir yang telah menyakitimu.\"

Kerang beliapun menangis, namun air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini terus menerus ia lakukan. Rasa sakit itupun secara ber-angsur berkurang bahkan kemudian hilang. Ajaibnya, pasir yang membuat sakit tubuh kerang itu justru telah berubah menjadi butiran yang sangat cantik. Ya, pasir yang masuk ke dalam kerang belia itu telah berubah menjadi mutiara.

Ketika kerang itu dipanen dan kemudian dijual, maka kerang yang berisi sebutir pasir itu harganya mahal. Sementara kerang yang tak pernah merasakan sakitnya pasir dalam tubuhnya, ia menjadi kerang rebus yang dijual murah bahkan di obral di pinggir-pinggir jalan.

Setelah menarik napas panjang, ayah saya melanjutkan, \"Kalau kamu tidak pernah mendapat cobaan dan merasakan rasa sakit, maka kamu akan menjadi kerang rebus atau orang murahan. Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberikan manfaat kepada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi mutiara.\"

\"Anakku..., kerang rebus dijual obral di pinggir jalan sementara mutiara dijual mahal, diletakkan di tempat terhormat dan dikenakan oleh orang-orang yang terhormat. Hidup adalah pilihan wahai anakku... kamu bisa memilih hendak menjadi kerang mutiara atau kerang rebus, semua terserah kamu.\" Ayah saya kemudian bertanya, \"Kamu memilih menjadi apa, mil?\" Maka, segera saya jawab, \"Saya ingin menjadi kerang mutiara pak!\"

Kelak, cerita itu sangat mempengaruhi perjalanan hidup saya. Ketika saya sekolah di sekolah lanjutan pertama, saya harus mencari biaya sendiri untuk membayar SPP. Selepas subuh, saya harus pergi ke kebun karet untuk mengambil latex dari perkebunan karet di PTP X. Pekerjaan itu bisa saya tuntaskan sebelum jam tujuh pagi.

Saya dibayar empat ribu perak selama sebulan. Karena pekerjaan itu, aroma tak sedap pasti menempel di tangan saya. Walau dicuci dengan sabun, aroma itu tetap tak hilang. Sesampainya di sekolah, sering tangan itu diludahin teman karena bau yang tak sedap itu. Bahkan, salah satu air ludah teman SMP saya itu pernah mengenai wajah saya. Sayapun menangis. Dalam suasana seperti itu, saya teringat cerita kerang mutiara dan kerang rebus dari ayah saya. Cerita itu telah membuat saya kuat menghadapi penghinaan teman SMP saya.

Ketika saya lelah mengayuh sepeda sepanjang 23 km menuju sekolah SMAN Way Halim di Bandar Lampung, sayapun teringat cerita ayah saya. Begitu pula ketika saya diterima kuliah di IPB. Saya dan ayah saya datang ke salah seorang yang kaya di kampung kami. \"Alhamdulillah pak, Jamil diterima di IPB. Saya tidak punya uang untuk memberangkatkan dia. Tolong saya dipinjami uang tiga ratus ribu rupiah saja.\" Ayah saya membuka pembicaraan.

Sambil menghisap rokok, tuan rumah itu menjawab, \"Wah hebat bisa diterima di IPB, tapi kalau nggak punya uang ya nggak usah panjang angan-angan. Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha koq mau kuliah. Baru mau berangkat saja sudah pinjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam uang terus?\"

Saya melihat ayah saya tertunduk. Saya tak tahu apa yang ada di benak ayah saya ketika itu. Tak terasa butiran air mengalir di pipi. Saya biarkan air mata itu mengalir, sebab saya merasa itu adalah air mata kerang belia yang sedang membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Saya memang telah memilih untuk menjadi kerang mutiara. Bagaimana dengan Anda?

Keterangan Penulis:Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

<<------------------------ http://imuone.official.ws/ --------------------------->>

Labels: , ,


Friday, February 6, 2009

 

Belajar menulis

Aku ingin menulis, tapi apa yang harus kutulis kemudian ketika kubuka ymail ku kubaca e-mail dari sekolah menulis ingin juga sih ikutan sekolah menulis, tapi bagaimana dengan waktunya belajar menulis itu, bagaimana mengaturnya? sementara masih pagi sudah berangkat kerja dan pulang petang, malam ronda dipos belakang. ngantuk tidur dan kerja lagi... wah gak ada habis-habisnya kalo hidup ini terus dituruti.

Akhirnya kutulis aja apa yang ingin aku tulis, seperti inilah jadinya ha ha ha...
Tulisan ini ngawur memang, tapi biarin aja wong namanya juga belajar menulis. Kan ada yang bilang 'kalau ingin mengerjakan sesuatu yang baik, kerjakanlah' jangan dipersulit dengan memikirkan bagaimana nanti, jika begini, kalau begitu dan lain-lain. Kan judulnya juga mengerjakan yang baik ha ha ha.

Tulisan ini sangat jelek dan tidak berbobot, biarin aja emang gua fikirin, yang penting hati saya senang sudah bisa menghasilkan tulisan. Maaf aja kalau anda merasa tidak bermanfaat untuk membacanya, sekali lagi mohon maaf kalau anda juga sudah terlanjur baca.

Saya menulis ini saat saya istirahat siang, karena lagi lapar maka tulisannya ngawur.
Ok salam sukses buat anda semua!

Labels: ,


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]